• Jl. Dr. Ratulangi No. 274, Maros
  • WhatsApp 081122225808
  • [email protected]
Logo Logo
  • Beranda
  • Profil
    • Overview
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
    • Tugas dan Fungsi
    • Pimpinan
    • Satuan Kerja
    • Sumber Daya Manusia
  • Informasi Publik
    • Portal PPID
    • Standar Layanan
      • Maklumat Layanan
      • Waktu dan Biaya Layanan
    • Prosedur Pelayanan
      • Prosedur Permohonan
      • Prosedur Pengajuan Keberatan dan Penyelesaian Sengketa
      • Prosedur Pelayanan Publik
    • Regulasi
    • Agenda Kegiatan
    • Informasi Berkala
      • LHKPN
      • LHKASN
      • DIPA
      • RKAKL/POK
      • Laporan Kinerja
      • Capaian Kinerja
      • Laporan Keuangan
      • Laporan Realisasi Anggaran
      • Laporan Tahunan
      • Daftar Aset/BMN
      • Prosedur Evakuasi
      • Laporan PPID
      • Indeks Kepuasan Masyarakat
    • Informasi Serta Merta
    • Informasi Setiap Saat
      • Daftar Informasi Publik
      • Daftar Informasi Dikecualikan
      • Rencana Strategis
      • Kerja Sama
      • Standar Operasional Prosedur
  • Publikasi
    • Buku
    • Pedum dan Juknis
    • Infografis
    • Siaran Pers
    • Buletin
  • Reformasi Birokrasi
    • Manajemen Perubahan
    • Deregulasi Kebijakan
    • Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik
    • Penataan dan Penguatan Organisasi
    • Penataan Tata Laksana
    • Penataan Sistem Manajemen SDM
    • Penguatan Akuntabilitas
    • Penguatan Pengawasan
  • Layanan
Thumb
15 dilihat       17 Oktober 2026

Mappadendang, Syukur dari Lesung dan Alu, dan Peran Sulawesi Selatan bagi Pangan Bangsa

Maros, (17/10) – Bunyi alu yang beradu dengan lesung adalah salah satu suara paling khas dari pesta panen masyarakat Bugis dan Makassar. Di Hari Kebudayaan Nasional tahun ini, tradisi itu mengingatkan kita bahwa budaya dan pangan berakar pada tanah yang sama.

Budaya Hidup, Indonesia Berdaya

Tanggal 17 Oktober dipilih berdasarkan peristiwa 17 Oktober 1951, ketika kabinet menyetujui semboyan Bhinneka Tunggal Ika pada lambang negara Garuda Pancasila. Hari Kebudayaan Nasional pertama kali diperingati pada 17 Oktober 2025. Tahun ini temanya “Budaya Hidup, Indonesia Berdaya!”. “Budaya Hidup” menekankan keberlangsungan tradisi, bahasa daerah, kesenian, dan pengetahuan lokal dalam kehidupan masyarakat, sedangkan “Indonesia Berdaya” menggambarkan potensi budaya dalam memperkuat identitas bangsa dan mendukung pembangunan nasional.

Mappadendang: Pesta Syukur Panen Padi

Mappadendang adalah pesta syukur masyarakat Bugis atas keberhasilan menanam padi, dengan acara menumbuk gabah pada lesung memakai alu besar. Namanya berasal dari kata “dendang” yang berarti bunyi lesung. Pesta ini diiringi nyanyian, tarian, ammancak (pencak silat), dan doa syukur. Acaranya biasanya digelar di lapangan terbuka setelah maghrib, dan warga kampung sebelah ikut menyaksikan. Seperti tampak di poster peringatan ini, para pelakunya mengenakan busana adat dan menampilkan gerak yang selaras dengan irama lesung.

Nilai, Filosofi, dan Moral di Balik Bunyi Lesung

  1. Syukur kepada Sang Pencipta. Pada awalnya tradisi ini menghormati Dewi Padi, Sanghyang Serri, agar panen berikutnya lebih melimpah. Seiring pengaruh Islam, maknanya lebih ditujukan kepada penghormatan kepada Tuhan. Mappadendang diwujudkan sebagai ungkapan syukur kepada Dewata Seuwae atas panen yang dituai tanpa hambatan.
  2. Gabah yang disucikan menjadi beras. Mappadendang juga dimaknai sebagai pensucian gabah, yang semula terikat pada batang dan terhubung dengan tanah, menjadi beras yang menyatu dengan manusia. Padi dipandang sebagai berkah yang perlu dihormati, bukan sekadar komoditas.
  3. Kebersamaan dan gotong royong. Tradisi ini mewariskan nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap alam kepada generasi berikutnya. Menumbuk bersama membutuhkan kekompakan, karena irama yang indah hanya lahir jika semua bergerak serempak.
  4. Hormat pada alam dan siklus tani. Kajian tentang kearifan ekologis Bugis-Makassar merangkum pesannya begini: sebelum menanam manusia menghormati alam, saat menanam bekerja, saat menunggu bersabar, dan saat panen bersyukur. Mappadendang menutup siklus itu dengan syukur.
  5. Silaturahmi dan identitas. Selain bersyukur, Mappadendang menjadi ajang mempererat persaudaraan, memperkenalkan dan melestarikan budaya Bugis, serta memperkenalkan kue-kue tradisional khas Bugis.

Cara Masyarakat Menjaga Nilai Luhur Itu

Nilai-nilai ini tidak berhenti sebagai kenangan. Penelitian mencatat Mappadendang masih dilestarikan di Desa Paccing sebagai bentuk syukur dan penghormatan pada warisan leluhur. Di Pationgi, Bone, tradisi ini juga menjadi ruang tudang sipulung yang mempertemukan nilai religius, sosial, gotong royong, dan silaturahmi. Menjaga tradisi sambil menyesuaikannya dengan perkembangan zaman diharapkan membuat bunyi alu dan lesung tetap hidup di masa depan. Dalam keseharian, nilai seperti sipakatau (saling memanusiakan), sipakalebbi (saling menghargai), dan sipakainge’ (saling mengingatkan) dikenal luas dalam budaya Bugis-Makassar. Itulah wujud “budaya hidup” yang dimaksud tema tahun ini.

Dari Tradisi Syukur ke Lumbung Pangan

Syukur atas panen itu kini punya wujud angka. Sulawesi Selatan tercatat sebagai salah satu penopang utama pangan nasional.

  • Beras. Produksi beras nasional naik dari sekitar 30 juta ton pada 2024 menjadi lebih dari 34 juta ton pada 2025, dengan surplus sekitar 4 juta ton, dan Sulawesi Selatan disebut memberi kontribusi signifikan. Di Sulawesi Selatan, produksi mencapai 5,47 juta ton gabah kering giling, naik 13,45 persen dibandingkan 2024.
  • Dukungan benih. Pemerintah provinsi menyalurkan 5.000 ton benih padi unggul kepada 9.896 kelompok tani untuk 200 ribu hektare sawah melalui program Mandiri Benih.
  • Jagung. Produksi jagung pipilan kering Sulawesi Selatan pada 2024 mencapai 1,13 juta ton, naik 10,34 persen dari tahun sebelumnya, dengan luas panen 191,01 ribu hektare. Sulawesi Selatan termasuk sepuluh sentra produksi jagung nasional pada 2025. Secara nasional, produksi jagung pipilan kering 2025 mencapai 16,16 juta ton, naik 6,74 persen

 

Bagi petani yang menumbuk padi dengan lesung berabad-abad lalu maupun yang mengoperasikan alsintan hari ini, pesan syukurnya sama yaitu hasil bumi adalah amanah untuk dijaga dan dibagikan.

Mappadendang menunjukkan bahwa budaya dan pangan tidak bisa dipisahkan. Dari lesung dan alu lahir rasa syukur, kebersamaan, dan hormat pada alam. Di Hari Kebudayaan Nasional ini, tradisi tersebut mengingatkan bahwa Indonesia yang berdaya tumbuh dari budaya yang hidup di tengah petani.


 

Terima kasih telah membaca artikel kami. Kami ingin mengajak Anda untuk terus menjelajahi dan memperdalam pengetahuan Anda. Temukan berita terbaru dan artikel bermanfaat dengan mengklik tautan berikut "Klik di sini".


 

Jurnalis: Muchammad Fatchur Rizza.

Prev Next

- Humas BRMP Serealia


Pencarian

Berita Terbaru

  • Thumb
    Memang Daun Jagung Layu di Siang Hari itu Normal?
    30 Okt 2026 - By Humas BRMP Serealia
  • Thumb
    Profil Lengkap Tiga Nahkoda Pertanian Indonesia
    29 Okt 2026 - By Humas BRMP Serealia
  • Thumb
    Pemkab Bantaeng Persiapkan BLUD Penangkaran Benih Jagung
    29 Okt 2026 - By Humas BRMP Serealia
  • Thumb
    Wamentan Saleh Ajak ASN Kementan Prioritaskan Ketahanan Pangan
    29 Okt 2026 - By Humas BRMP Serealia
  • Thumb
    Tak Lagi Dibakar, Limbah Jagung Kini Jadi Penyubur Tanah
    23 Okt 2026 - By Humas BRMP Serealia

tags

Artikel Populer Budaya Nusantara Warta Serealia

Kontak

WhatsApp 081122225808
Telepon (0411) 374511
[email protected]

Jl. Dr. Ratulangi No.274, Kecamatan Lau, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia Kode Pos 90512

Email [email protected]
Website serealia.brmp.pertanian.go.id

© 2025 - 2026 Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Serealia. All Right Reserved